Senin, 11 November 2019

SADARI...!! ADANYA BALA TENTARA SORGA.

Apakah ada Balatentara Kerajaan Sorga? 
Wahyu 12:7-9
"Maka timbullah peperangan di sorga. Mikhael dan malaikat-malaikatnya berperang melawan naga itu, dan naga itu dibantu oleh malaikat-malaikatnya, tetapi mereka tidak dapat bertahan; mereka tidak mendapat lagi tempat di sorga. Dan naga besar itu, si ular tua, yang disebut Iblis atau Satan, yang menyesatkan seluruh dunia, dilemparkan ke bawah; ia dilemparkan ke bumi, bersama-sama dengan malaikat-malaikatnya." 

Suatu peperangan di Sorga, dalam alam tidak kasat mata. Berarti dalam Kerajaan Sorga, harus dipahami adanya pemberontakkan di Sorga. Pemberontakan itu dilakukan oleh 'naga' atau 'naga besar', atau Iblis atau Satan. Dan pemberontak itu mempunyai pengikut-pengikut, yakni 'malaikat-malaikat' naga, atau malaikat Iblis. Pemberontakan itu ditindas oleh Mikhael beserta malaikat-malaikat rombonganya, yakni yang setia kepada Kerajaan atau kepada Raja Sorga. Pemberontakkan di Sorga berakhir dengan terlemparnya Iblis ke dunia, bersama malaikat-malaikat Iblis. 

Iblis terlempar ke bumi ke Kawasan kehidupan manusia. Untuk selama-lamanya Iblis tidak dapat lagi merecoki Sorga, dalam Alam Tidak Kasat Mata. Maka Mikhael dan rombongannya tentu kembali kepada tugas harian: melayani Raja. Termasuk melayani anak-anak Kerajaan. Peranan itulah yang dituliskan di dalam Ibrani 1:13-14 "Dan kepada siapakah di antara malaikat itu pernah Ia berkata: "Duduklah di sebelah kanan-Ku, sampai Kubuat musuh-musuh-Mu menjadi tumpuan kaki-Mu?"Bukankah mereka semua adalah roh-roh yang melayani, diutus untuk melayani mereka yang harus memperoleh keselamatan?

Raja Sorga mengutus Malaikat Sorga yang setia, untuk melayani mereka yang harus memperoleh keselamatan. mereka yang masih berada di bumi; mereka yang masih mungkin disesatkan oleh Iblis, penyesat seluruh dunia. 

Pemberontakkan yang sudah usai di Sorga, dilanjutkan dengan peperangan di dalam diri manusia! Itulah sebabnya Raja Sorga melengkapi anak-anak Kerajaan dengan Roh Kudus (secara internal) dan rombongan Mikhael untuk melayani manusia yang harus memperoleh keselamatan (secara eksternal) agar jangan disesatkan lagi oleh si Iblis. 

Wahyu 12:9, menjelaskan bahwa Iblis menyesatkan seluruh dunia! Artinya menyesatkan seluruh umat manusia. Maka tidak ada lagi manusia yang layak menyatakan dirinya tidak sesat kecuali mereka yang dengan sadar sudah bergabung dengan Kerajaan Sorga. Dengan cara meninggalkan rombongan Pemberontak yang sempat menyesatkan dia. Bergabung ke dalam Kerajaan  Sorga harus dilakukan sekaligus dengan meninggalkan rombongan Iblis pemberontak!

Tidak cukup dengan menyatakan diri memeluk agama Kristen, atau mengaku anggota sekte kristiani tertentu, atau jemaatnya hamba gereja yang hebat. Harus tegas-tegas menyatakan "AKu meronta dari penguasaan Iblis dan bergabung dengan KerajaanNya Sorga." Namun, meninggalakan rombogan Pemberontak bukan perkara mudah. Sebab Iblis 'mengikat' kuat-kuat yang sudah dia sesatkan. Bahkan memperkarakan di di hadapan Mahkamah Raja, berharap beroleh kesempatan menggocoh, bila Raja memvonnis si terdakwa itu. Ibis pulalah yang akan menggocoh orang itu, seperti gocohannya terhadap Ayub. Dengan harapan agar orang itu menganggap Tuhanlah yang sudah mencobai dia (secara tidak adil), sehingga cenderung menjauh dari Tuhan. Bahkan mungkin menghujat Tuhan. Kemungkinan lain, orang itu mungkin meminta pertolongan dari hamba Iblis untuk mengatasi masalahnya. Semisal pertolongan paranormal untuk menyembuhkan dia dari penyakit hasi gocohan Iblis. Atau bantuan dukun, atau hamba Iblis lainnya. 

Begitu kuatnya ikatan Iblis dan gocohannya, sehingga dibutuhkan otoritas Kerajaan Sorga, untuk bertindak menolong, sesuai dengan iman manusia kepada Raja Sorga. Dilanjutkan dengan pengawalan oleh malaikat Sorga yang setia, Ibrani 1:13-14.  

Di dalam status sebagai 'anak Kerajaan', sewajarnyalah mereka beroleh 'bodyguard', yakni pengawal pribadi, yang bersiaga siang dan malam, menangkali serangan Iblis yang tidak rela ditinggalkan oleh anak Kerajaan yang 'memberontak' terhadap Iblis itu. Namun jangan salah mengerti manfaat penyertaan malaikat pengawal. Yesus Anak Manusia mengajarkan hal ini dalam Matius 26:53, "Atau kau sangka, bahwa Aku tidak dapat berseru kepada Bapa-Ku, supaya Ia segera mengirim lebih dari dua belas pasukan malaikat membantu AKu? 

Malaikat Sorga diutus untuk melayani mereka yang harus beroleh keselamatan. Tetapi melayani bukan seturut kehendak manusia, melainkan suturut kehendak Bapa Sorgawi. Maka setiap kebutuhan khusus tentang pengawalan malaikat Sorga harus dimohonkan kepada Bapa Sorgawi, seperti yang dicontohkan Yesus di dalam kutipan di atas. 

Sudahkah Saudara meminta pengawalan malaikat Sorga kepada Bapa Sorgawi? 

Segala kemuliaan dan hormat,
Bagi Bapa di Sorga dalam nama Yesus Raja Sorgawi! Amin.  

AMANDEMEN HUKUM TAURAT OLEH YESUS

Matius 5:17-19
"Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat dan kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan menggenapinya. Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi. Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi dalam Kerajaan Sorga."

Kitab para Nabi dan hukum Taurat 'Digenapi' oleh Yesus. Penggenapan hukum Taurat yang dilakukan oleh Yesus, terkesan belum lengkap sehingga Yesus perlu menggenapinya. Arti menggenapi disini dapat dipahami dalam arti bahasa hukum sebagai 'Amandemen' karena Amendemen adalah perubahan resmi dokumen resmi atau catatan tertentu, terutama untuk memperbagusnya. Perubahan ini dapat berupa penambahan, atau juga penghapusan catatan yang salah, tidak sesuai lagi. 

Penggenapan (Amandemen) hukum Musa oleh Yesus dengan melakukan penambahan dan bukan penghapusan, mengingat sabda Yesus dalam Matius 5:18 "..., satu iota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi." Ditiadakan disini bermakna penghapusan dalam istilah amandemen. 

Berikut hukum Taurat di genapi (amandemen) oleh Yesus: 
  1. Matius 5:21-22 "Kamu telah mendengar yang telah difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. TETAPI AKU berkata kepadamu: setiap orang yang marah...."   
  2. Matius 5:27-28 "Kamu telah mendengar firman: Jangan berzinah. TETAPI AKU aku berkata kepadamu: setiap orang..." 
  3. Matius 5:31-32 "Telah difirmankan juga: Siapa yang menceraikan isterinya harus memberi surat cerai kepadanya. TETAPI AKU berkata kepadamu: setiap orang yang menceraikan istrinya..."
  4. Matius 5:33-34 "Kamu telah mendengar pula yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan bersumpah palsu, melainkan peganglah sumpahmu di depan Tuhan. TETAPI AKU berkata kepadamu: jangan sesekali bersumpah..." 
  5. Matius 5:38-39 "Kamu telah mendengar firman: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi. TETAPI AKU berkata kepadamu: janganlah kamu melawan..."
  6. Matius 5:43-44 "Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. TETAPI AKU berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu."
Dalam setiap amandemen diperlukan pertimbangan serta alasan-alasan kongkrit, yang mendasari dibuatnya amandemen itu sendiri. Tetapi dalam hal amandemen (penggenapan) hukum Taurat, Yesus mendasari penggenapan (amanedemen) itu dengan alasan yang berdasar pada diri-Nya sendiri dengan mengatakan "TETAPI AKU". Yesus tidak menguraikan banyak hal yang menjadi alasan dan dasar melakukan 'Penambahan'/Penggenapan (amandemen) hukum Musa yang telah menjadi landasan hidup kepercayaan orang Israel selama ribuan tahun sebelum Yesus tampil sebagai Anak Manusia.

Sangat menarik untuk mencari tahu, apa makna atau kesan yang terkandung dari perkataan Yesus itu, yang mengatakan "TETAPI AKU". Kalimat "TETAPI AKU" terdiri dari dua kata yaitu 'TETAPI' dan 'AKU'. Kemudian untuk melihat makna yang terkadung dari kalimat "TETAPI AKU" maka perlu dicari arti kata 'TETAPI' dan 'AKU'. 
  1. TETAPI adalah kata penghubung intrakalimat untuk menyatakan hal yang bertentangan atau tidak selaras.
  2. AKU adalah yang berbicara atau yang menulis itu sendiri.
Makna atau kesan yang terkandung di dalam kalimat "TETAPI AKU" yang disabdakan oleh Yesus adalah memperlihatkan kepada kita bahwa adanya 'Pertentangan atau hal yang Tidak Selaras' yang terdapat dalam hukum Taurat itu sendiri, sehingga perlu dilakukannya sebuah perubahan (amandemen) atau penggenapan.

Pertentangan atau ketidakselarasan yang disampaikan oleh Yesus dalam kesan penggenapan ini, tidaklah merujuk langsung kepada hukum Taurat itu sendiri. Hal ini terlihat dari kata 'AKU' yang diucapkan oleh Yesus sendiri. Dalam kalimat 'TETAPI AKU', terlihat jelas tergantung makna bahwa Yesus mempertentangkan atau membandingkan diri-Nya dengan pihak lain atau pribadi lain yang sebelumnya menyampaikan hukum Taurat itu sendiri. Siapakah pihak lain atau pribadi lain yang dipertentangkan/diperbandingkan Yesus? 

  1. Matius 5:21-22 "Kamu telah mendengar yang telah 'DIFIRMANKAN' kepada 'NENEK MOYANG' kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. Tetapi Aku berkata kepadamu: setiap orang yang marah...."
  2. Matius 5:33-34 "Kamu telah mendengar pula yang 'DIFIRMANKAN' kepada 'NENEK MOYANG' kita: Jangan bersumpah palsu, melainkan peganglah sumpahmu di depan Tuhan. Tetapi Aku berkata kepadamu: jangan sesekali bersumpah..."
Untuk mengetahui pribadi yang dipertentangkan/diperbandingkan Yesus dengan diri-Nya maka perlu melihat kembali proses Penggenapan (Amandemen) hukum Taurat yang dilakukan oleh Yesus sendiri. Matius 5:21-22 dan Matius 5:33-34 dapat memberi pemahaman tentang siapa pribadi yang dimaksud Yesus: 
  1. DIFIRMANKAN mengandung arti disabdakan; diperintahkan. Dibalik perintah pasti ada yang memberi perintah untuk disabdakan atau difirmankan. 
  2. NENEK MOYANG mengandung arti orang dulu yang menurunkan kita, leluhur. 
Dari penjelasan di atas dapat dipahami bahwa pribadi yang dipertentangkan/diperbandingkan Yesus dengan diri-Nya adalah pribadi yang memberi perintah, memberi sabda atau firman dalam hal ini hukum Taurat dan pribadi yang menerima firman (hukum Taurat) untuk diturunkan kepada keturunan berikutnya, sehingga pribadi yang menerima firman ini disebut sebagai leluhur. 

Siapakah pribadi yang memberikan sabda/firman (hukum Taurat)? 
  1. Pribadi pertama tidak lain adalah Malaikat yang menampakkan diri kepada Musa di dalam nyala api yang keluar dari semak duri; Keluaran 3:2. Dimana kemudian Musa berinisiatif menuliskan nama pribadi ini dengan YHWH dengan ujaran YAHWEH. Pribadi YHWH atau YAHWEH yang dipertentangkan/diperbandingkan Yesus dengan diri-Nya dengan menggunakan kalimat 'TETAPI AKU'. Pertentangan ini dapat diartikan bahwa YESUS bukanlah YHWH (YAHWEH), sebab jika YESUS adalah YHWH (YAHWEH) tentunya Yesus tidak akan menggenapi (mengamandemen) hukum Taurat. Yesus adalah Tuhan yang setia kepada perkataan-Nya dan dibenarkan dalam setiap perkataan-Nya , sesuai dengan sabda-Nya dalam Matius 12:37 "Karena menurut ucapanmu engkau akan dibenarkan, dan menurut ucapanmu pula engkau akan dihukum".  
  2. Pribadi kedua tidak lain adalah Musa sendiri yang menyampaikan hukum Taurat kepada bangsa Israel. Musa diyakini telah melihat Tuhan di dalam nyala api yang keluar dari semak duri, tapi hal ini dibantah habis oleh Yohanes 1:18 "Tak seorang pun yang pernah melihat Tuhan; tetapi Anak Allah Anak Manusia, yang ada dipangkuan didalam Bapa Dialah yang menyatakan-Nya." Jelas... Yohanes menyatakan tidak seorangpun melihat Tuhan tidak terkecuali Musa. Musa pun tidak pernah melihat Tuhan. Yesus (Anak Manusia) yang menyatakan-Nya (Tuhan). 
Amandemen (Penggenapan) hukum Taurat oleh Yesus sendiri, menjelaskan banyak hal diluar hukum Taurat itu sendiri. Hukum Taurat telah diberikan, tetapi Yesus sang pemilik Hukum menelanjangi setiap perbuatan penyesatan yang terdapat didalamnya. Iblis berusaha merecoki Musa dengan mempergunakan kelemahan Musa yang tidak pandai bicara (Keluaran 4:10). Iblis merecoki alam pikiran Musa dengan memberi inisiatif agar Musa menuliskan huruf YHWH untuk disampaikan kepada orang Israel sebagai nama Tuhan yang bertemu dengannya dalam nyala api, yang keluar dari semak duri. Tak satu pun nama diberikan kepada Musa dan tak satupun perintah untuk menuliskannya.   

Kisah Para Rasul 4:12 "Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan."

Siapakah nama yang telah diberikan untuk keselamatan? Tiada nama lain selain nama YESUS!!!
Nama yang lain sesegera mungkin disingkirkan!!!

Segala Kemulian dan Hormat, 
Bagi Bapa di Sorga dalam nama Yesus Raja Sorgawi! Amin. 




Minggu, 10 November 2019

SIAPAKAH RAJA SORGA?

Jika ada Kerajaan, tentu ada Raja yang berkuasa yang memerintah. Maka Yesus memperkenalkan siapa Raja di dalam Kerajaan Sorga. Yesus menyatakannya secara tersirat di dalam 'Doa Bapa Kami' yang sangat terkenal itu (Matius 6:9-13). Perhatikanlah kalimat Pertama dan Terakhir dari Doa Bapa kami itu: 
"Bapa kami yang di Sorga... karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya, Amin."

Dari pengamatan Kalimat Pertama dan Terakhir dari Doa Bapa kami, maka dapat diketahui bahwa Raja di dalam Kerajaan Sorga adalah 'Bapa kami' yaitu 'Bapa Sorgawi'. Dan siapa saja yang beriman kepada ajaran Yesus akan diganjar dengan status 'anak' dari Bapa Sorgawi, atau memiliki status anak Kerajaan, berbangsa Sorga dan bukan lagi berbangsa dunia. Sudahkah saudara menjadi anak Kerajaan Sorga dan berbangsa Sorga? Yesus sendirilah yang menunjukkan Siapa Raja dalam Kerajaan Sorga. Hal ini dapat dipahami dalam sabda Yesus pada Matius 16:27-28: 
"Sebab Anak Manusia akan datang dalam kemuliaan Bapa-Nya diiringi 
malaikat-malaikat-Nya; pada waktu itu Ia akan membalas setiap orang 
menurut perbuatannya. Aku berkata kepadamu: sesungguhnya di antara orang 
yang hadir di sini ada yang tidak akan mati sebelum mereka melihat 
Anak Manusia datang sebagai Raja dalam Kerajaan-Nya." 

Anak Manusia adalah Yesus yang turun dari Sorga, Dialah Raja Sorga. 
Apakah saudara menjadi ragu, karena dua pernyataan yang tidak selaras? Pada bagian sebelumnya Bapa Sorgawi adalah Raja, sekarang Anak Manusia adalah Raja. Dimanakah kebenarannya??? Inilah kebenarannya: 
Anak dalam kesatuan dengan Bapa, Dialah Raja Sorga!!! 

Di dalam kesatuan dengan Bapa, Yesus adalah Raja Sorga. Ini adalah kebenaran Injil Kerajaan Sorga dan harus diterima tanpa perdebatan. Perhatikanlah Saudara Matius 25:31-34 juga mencatat sabda yang serupa: 
"Apabila Pada waktu Anak Manusia datang dalam kemuliaan-Nya dan semua malaikat bersama-sama dengan Dia (Anak Manusia), maka Ia (Anak Manusia) akan bersemayam di atas takhta kemuliaan-Nya (Anak Manusia) dan Ia akan memisahkan domba dari kambing, dan Ia akan menempatkan domba-domba di sebelah kanan-Nya dan kambing-kambing di sebelah kiri-Nya. Dan Raja itu (Anak Manusia) akan berkata kepada disebelah kanan-Nya: Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan."

Perhatikanlah potongan kalimat Anak Manusia berserta kata penggantinya (Dia, Ia,-Nya, dan Raja itu), bukankah potongan kalimat dan kata ganti ini mengajarkan kita bahwa Anak Manusia (Yesus) adalah Raja? Perhatikan pula potongan kalimat semua malaikat bersama dengan Dia. Perhatikan... 'semua malaikat', apakah tidak ada lagi malaikat yang melayani Bapa Sorgawi??? Tidak masuk hitungankah lagi Bapa Sorgawi? Dimanakah Bapa Sorgawi? Mustahil Anak melucuti kemuliaan Bapa, mustahil Anak berkhianat kepada Bapa, seperti yang Iblis lakukan. Kebenarnya adalah Anak dan Bapa, di dalam satu kesatuan, adalah Raja Sorga. Murid Yesus yang lain juga menyatakan hal kesatuan Anak dan Bapa, periksalah Yohanes 17:10. Bahkan nubuatan Yesaya 9:5 sudah menunjukkan kebenaran kesatuan Bapa dengan Anak: 
"Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita;
lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasehat Ajaib, Tuhan yang Perkasa, Bapa yang kekal, Raja Damai."

Yesaya menubuatkan kedatangan 'Mesias' (yang diutus; Kristus), yang tampil sebagai Anak (Manusia) yaitu Yesus. Di bawah tuntunan Sorga, Yesaya menyatakan bahwa Mesias, 'Anak' itu juga bergelar 'Bapa yang Kekal', 'Raja Damai'. Lagi-lagi pengajaran tentang kesatuan Anak dengan Bapa diteguhkan! Maka, sekali lagi perlu ditekankan bahwa di dalam Wawasan Kerajaan Sorga Anak dan Bapa adalah satu Roh (satu pribadi). 

Segala Kemuliaan dan Hormat...
Bagi Bapa Sorgawi dalam nama Yesus Raja Sorgawi!!! Amin. 

WAWASAN KERAJAAN SORGA

Yesus memulai pelayanan-Nya di bumi dengan Seruan Perdana:
"Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga Sorga sudah dekat!" Matius 4:17. Yesus sudah menunjukkan bahwa yang dibawa-Nya adalah Pesan (ajaran) tentang Kerajaan Sorga (Basilealogia). Sehingga disepanjang rekaman-rekaman Injil, terlihat hal-hal yang menerangkan tentang itu. 

Kalaupun Yesus menjalani syariat agama Yahudi semasa bayi (sunat, dll), semua itu terjadi sebelum Yesus membuka pemuridan-Nya sendiri. Setelah menjadi Rabi (Guru), Yesus tidak menetapkan tentang sesuatu syariat Agama, terlihat dari seluruh sabda yang disampaikan-Nya, yang tidak menyinggung mengenai ketentuan agamawi. Kalaupun ada kata 'hidup keagamaan' dalam Matius 5:20, itu hanya akibat kesalahan penterjemahan oleh L.A.I. Dalam KJV, berbahasa Inggris menggunakan kata 'righteousness' yang berarti 'hidup benar'. Jadi, penerjemahan yang tepat adalah 'Hidup Benar' bukan 'Hidup Keagamaan'

  • Yesus tidak pernah menetapkan suatu Hari Ibadah. Memang Yesus sering mengunjungi Synagogue pada hari sabat, tetapi bukan untuk beribadah, melainkan untuk mengabarkan Injil-Nya. Kehadiran-Nya di Bait Tuhan pada hari sabat adalah karena pertimbangan praktis yaitu banyak pendengar hadir di sana. 
  • Yesus tidak membangun atau menetapkan bentuk Rumah Ibadah; tidak merumuskan Tatacara Ibadah, seperti yang ditetapkan oleh Musa dan para penerusnya di dalam Kitab Perjanjian Lama (P.L.). 
  • Bahkan Yesus tidak pernah merumuskan tentang ke-imam-an agamawi, dan tidak pernah Yesus menunjuk salah seorang murid-Nya menjadi imam bagi murid lainnya.
Suatu fakta bahwa Bible menuliskan ratusan halaman tentang urusan Kerajaan. Apakah ratusan halaman itu tidak untuk disadap manfaat bentuk pola pemuridan dalam iman kepada Raja Sorgawi yaitu Yesus? 

  • Dalam satu kerajaan hanya ada satu Raja 
  • Raja adalah Yang Maha Tinggi di dalam setiap Kerajaan, kekuasaan Raja bersifat mutlak dan tidak dapat diganggu gugat oleh Bapak/Ibunya Raja, memuliakan Ibunda Raja melebihi Raja dianggap bentuk ketidak setiaan kepada Raja. Misalnya: seperti yang direkam dalam 1 Raja-Raja 2:17-25. Ketika Betseba Ibu Raja Salomo meminta agar Abisag diberikan untuk menjadi istri Adonai. Permintaan ibu Raja ditolak yang akhirnya Adonia memperoleh kematian. 
  • Warga harus menyerahkan sebagain harta, bahkan anak-anak muda untuk melayani Raja dan untuk kepentingan Kerajaan. Seperti halnya ketika Raja Saul diangkat menjadi seorang raja dengan ketentuan ketentuan yang diberikan kepada bangsa Israel. Yang menentang ketentuan ini dianggap Pemberontak! Didalam Kerajaan Sorga, prinsip lebih dahsyat lagi, segala harta dan diri pribadi warga adalah milik Raja, sebab Raja Sorga adalah Pencipta Manusia dan Dunia dan segala isinya. 
  • Sabda Raja adalah Hukum, yang mutlak yang harus ditaati. Sabda Raja tidak boleh ditambahi dengan ajaran/aturan asing, yang membangkangi Sabda Raja dianggap Pemberontak. 
  • Dituntut kesetiaan mutlak warga kepada Raja: Taat...Taat...dan Taat. Bahkan ketaatan tidaklah cukup untuk beberapa kali atau beberapa tahun. Ketaatan bersifat selama-lamanya tanpa terputus, warga harus mentaati Raja, itulah kesetiaan warga Kerajaan.  

1. WAWASAN KERAJAAN (BASILEALOGIA) 


Basilea-logia berasal dari kata Yunani yang artinya Basilea (Kerajaan) dan Logia (ajaran tentang/wawasan tentang), yang artinya ajaran tentang kerajaan atau wawasan tentang kerajaan, bukan tentang wawasan agama. Basilealogia sangat berbeda dari Theos-Logia, yang menjadi dasar pengajaran agama Kristen, bahkan bagi ajaran setiap sekte yang berkembang sendiri-sendiri. Masing-masing sekte memiliki perbedaan pandangan terhadap Kerajaan Sorga, sehingga hal tersebut menimbulkan ketimpangan ataupun penyimpangan terhadap Kerajaan Sorga yang diserukan oleh Yesus dalam Matius 4:17. Meskipun terjadi ketimpangan dalam perbedaan pandangan, namun hal ini tidak menjadi suatu peringatan bagi agama Kristen itu sendiri, yang terjadi malah saling mengklaim bahwa pandangan sektenya paling benar dari sekte lainnya. 

Murid Yesus atau pemberita Injil Kerajaan Sorga tidak membutuhkan Theologia, sebab semua sabda Raja yang mereka perlukan untuk ditaati sudah terekam di dalam rekaman-rekaman Injil yaitu Matius, Markus, Lukas dan Yohanes). Mentaati sabda Raja bukan untuk diperbantahkan atau diperdebatkan. 

Sebab didalam Yohanes 14:15-17 disabdakan bahwa "Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku. Aku akan meminta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran. Dunia tidak dapat menerima Dia, sebab dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia. Tetapi kamu mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu." 

Sehingga di dalam Wawasan Kerajaan (Basilealogia) untuk memahami setiap Sabda Raja Sorgawi yaitu Yesus Raja Sorgawi, murid Yesus tidak membutuhkan pandangan dunia (wawasan keagamaan 'Theologia'), karena dunia tidak menerima Dia, tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia. Tetapi sebuah janji diberikan bagi setiap yang taat kepada Yesus Raja Sorgawi untuk mengerti sabda-Nya yaitu seorang Penolong yaitu Roh Kebenaran

2. WAWASAN KERAJAAN SORGA

Yang Yesus beritakan pada awalnya adalah mengenai Kerajaan (Sorga) . Maka pesan-pesan Yesus selanjutnya harus dipahami seturut Wawasan Kerajaan (Basilealogia) Sorga (atau 'paradigma' Kerajaan Sorga). Tidak sia-sia bahwa Bible menulis ratusan halaman yang berisi catatan tentang Kerajaan. Maka wawasan Kerajaan dapat dipahami dari bagian Bible itu, namun wawan Kerajaan Sorga harus dimasuki dengan segala kemutlakannya. Sebab Raja Sorga adalah Pencipta Manusia, sehingga semua yang ada pada warga adalah milik Raja Sorga. 

Kemutlakan kekuasaan Raja Sorga mengatasi kemutlakan kekuasaan Raja dunia, sebab Raja Sorga Serba Mampu (Omni-Potent), Serba Hadir (Omni-Present) dan Serba Tahu (Omni-Scient), yang tidak dimiliki oleh Raja-raja dunia. Maka norma Kerajaan berlaku secara mutlak di dalam Kerajaan Sorga yang Yesus Perkenalkan Yaitu: 

  1. Di dalam Kerajaan Sorga hanya ada satu Raja, yang lainnya adalah hamba Raja. Suatu peristiwa dalam Markus 10:35-40 dapat menjelaskan hal ini, yaitu sewaktu Yakobus dan Yohanes memohonkan jabatan tinggi dalam Kerajaan-Nya Yesus kelak, dan hal ini menunjukkan bahwa pada saat itu mereka belum sungguh memahami dan memasuki wawasan Kerajaan Sorga yang Yesus beritakan.  
  2. Segala harta-benda, bahkan diri pribadi warga adalah milik Raja. Itu sebabnya Yesus tidak menghendaki persembahan, apapun bentuknya, karena semua adalah milik Raja Sorga. Hal ini dapat dipahami dalam Matius 9:13 dan Matius 12:7.
  3. Sabda Raja adalah HUKUM, yang mutlak harus ditaati. Hal ini dapat dipahami dalam Lukas 23:39-43 dan Roma 10:9. Perbandingan antara Lukas 23:-43 dan Roma 10:9 menunjukkan Sabda Yesus sebagai Raja tidak boleh diganggu gugat oleh hukum Agamawi yang dicatat oleh Paulus pada Roma 10:9. 
  4. Sabda Raja Sorga tidak boleh ditambahi dengan ajaran/aturan asing, misalnya ajaran Musa atau agama asing (jangan di OPPLOS). Warga Kerajaan Sorga tidak mengaminkan ajaran Muhammad, yang menganggap 'Allah' selaku Yang Maha Tinggi. Maka Warga Kerajaan Sorga tidak menyeru 'Allah', sebab lidah Yesus anak manusia di tanah Israel pasti tidak mengucapkannya. Warga Kerajaan Sorga tidak mengaminkan ajaran Musa, yang menganggap Yahweh atau YHWH selaku Yang Maha Tinggi, juga sesembahan suka bangsa lainnya seperti; Lowalangi (Nias), Debata (Batak), Jubata (Dayak), dll. Semuanya itu dianggap tabu, mengotori kemuliaan Raja Sorga. Hal ini dapat dipahami dalam 1 Tawarikh 16:26.
  5. Kesetiaan kepada Raja adalah bersifat mutlak yaitu Taat + Taat + Taat sampai selama-lamanya. Hal ini dapat dipahami dalam Sabda Yesus "... yang bertahan sampai kesudahannya akan selamat." Matius 10:22. ☝ Tidak selayaknya warga berdebat atau berdiskusi tentang sabda Raja. Debat atau diskusi tidak beroleh tempat dalam Basilealogia. Itu adalah bagian dari Theologia, di luar dari Wawasan Kerajaan Sorga. ☝ Jika warga tidak mengerti sesuatu perintah, harus ditanyakan langsung kepada Raja, sebab Raja memiliki kemampuan untuk mengajar langsung. Boleh juga ditanyakan kepada sesama hamba Raja yang sudah terbukti kesetiaannya melayani Raja. ☝ Janganlah warga Kerajaan Sorga menanyakan sabda Rajanya kepada seseorang yang bukan warga Kerajaan Sorga, betapapun keahliannya. Karena Dia bukanlah warga Kerajaan Sorga itu. 
  6. Karunia Kerajaan Sorga bagi mereka yang setia saja. Hal ini dapat dipahami dalam 1 Korintus 12:7-11 yaitu pengamatan Rasul Paulus mengenai karunia-karunia Roh Kudus dari wawasan Keagamaan, wawasan yang kuat melatar belakangi pemikiran-pemikiran Paulus. Karunia Roh yang Paulus ajarkan ini bersifat wawasan Keagamaan tidak dapat dianggap sama dengan Karunia dalam Wawasan Kerajaan. 

Sehingga Wawasan Kerajaan Sorga memahami bahwa: 
RAJA SORGA MENGELUARKAN SABDA
HAMBA SORGA MENAATI SABDA
TIDAK ADA DISKUSI ATAU PERBANTAHAN

Segala Kemulian dan Hormat...
Bagi Bapa di Sorga dalam nama Yesus Raja Sorgawi!!! Amin.

Sabtu, 09 November 2019

INILAH INJIL KERAJAAN SORGA

"Dan Injil Kerajaan ini akan diberitakan di seluruh dunia 
menjadi saksi bagi semua bangsa, sesudah itu barulah tiba kesudahannya."
Markus 24:14

1. Wilayah (Teritorial) Kerajaan Sorga

Iblis adalah pakar penyesatan. Banyak sekali orang Kristen diperdayanya. Misalnya, ketika mendengar perkataan "Kerajaan Sorga", segera menganggap bahwa Kerajaan Sorga itu urusan setelah ajal, karena dirancukan oleh pengertian "Sorga" yang indah dalam kekekalan. 

Pada hal Yesus bersabda:Atas pertanyaan orang Farisi, apabila bilamana Kerajaan Allah Tuhan akan datang, Yesus menjawab, kata-Nya: "Kerajaan Tuhan datang tanpa tanda-tanda lahiriah, juga orang tidak dapat mengatakan: Lihat, ia ada di sini atau ia ada di sana! Sebab sesungguhnya Kerajaan Tuhan ada di antara dalam kamu." 

Jelas sekali adanya Kerajaan Tuhan (sama dengan Kerajaan Sorga, sebab hanya satu sorga dan hanya satu Rajanya yaitu Tuhan). Yesus mengajarkan bahwa Kerajaan Sorga hadir tanpa tanda-tanda lahiriah, berarti tidak kasat mata, sesuatu kerajaan yang bersifat rohani. Artinya, orang tidak dapat mengatakan bahwa Kerajaan Sorga ada di Tanah Israel atau di Tanah Arab, sebab Kerajaan Sorga tidak kasat mata yang membutuhkan wilayah (teritorial). Dan oleh karena Kerajaan Sorga tidak kasat mata dan juga tidak membutuhkan wilayah, maka Kerajaan Sorga itu dikatakan ada di dalam kamu, ya... ada di dalam alam rohaniah kamu. 

2. Kerajaan atau Agama

Yesus memulai pelayananNya di bumi dengan seruan perdana: "Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!" (Matius 4:17). Seruan Yesus itu tidak sama dengan "Bertobatlah, supaya engkau masuk kerajaan sorga", sebab sorga masih jauh dan untuk memasukinya harus melalui ajal dan penghakiman.
Dalam seruannya, Yesus tidak menyerukan pesan Agama melainkan pesan Kerajaan. Jika Yesus menyerukan pesan Agama, tentunya kita berasumsi bahwa Yesus beragama Yahudi, namun Alkitab tidak mencatat demikian. Pesan yang diserukan Yesus jelas pesan Kerajaan, sehingga kita seharusnya meresponinya dengan wawasan Kerajaan dan bukan wawasan Agama. Jadi, perlu ditegaskan bahwa pemberitaan Yesus bukanlah pemberitaan Agama, namun pemberitaan Kerajaan Sorga, yaitu sebuah Kerajaan yang tidak kasat mata, tidak nampak kepada mata jasmani. Siapa yang mampu menghargainya? Siapa yang dapat menangkap dan menanggapinya dengan tepat?  

Maka dapatlah dikatakan bahwa Kerajaan Sorga adalah suatu kerajaan yang misterius, sehingga walaupun nabi-nabi Perjanjian Lama sudah menyinggungnya, namun seolah-olah tidak memperdulikannya karena tidak menampaknya. 

3. Misteri atau Rahasia

Misteriusnya kerjaan ini, dinyatakan oleh Yesus sendiri dalam Markus 4:10-12,
Ketika Ia sendirian, pengikut-pengikut-Nya dan kedua belas murid itu menanyakan Dia tentang perumpamaan itu. Jawab-Nya: "Kepadamu telah diberikan rahasia misteri Kerajaan Tuhan, tetapi kepada orang-orang luar segala sesuatu disampaikan dalam perumpamaan, supaya: sekalipun melihat, mereka tidak menanggap, sekalipun mendengar, mereka tidak mengerti, supaya mereka jangan berbalik dan mendapat ampun." 

Begitu misteriusnya kerajaan yang dimaksud oleh Yesus, sehingga kepada orang-orang luar hanya disampaikan dalam bentuk perumpamaan, jadi ada banyak orang yang tidak mengetahui dengan pasti tentang misteri kerajaan sorga selain dari pada murid Yesus itu sendiri.

Rahasia dan Misteri merupakan dua kata yang memiliki arti berbeda Rahasia dapat diungkapkan dengan bermodalkan kecerdasan, pengetahuan serta kegigihan mencari jawabannya. Misteri sendiri tidak sama dengan Rahasia, karena Misteri adalah kebenaran agamawi yang hanya mungkin dipahami melalui pewahyuan dan tidak dapat sepenuhnya dimengerti. 

4. Misteri Dibukakan Bagi Murid Yesus

Misteri Kerajaan Sorga hanya dibukakan kepada murid Yesus, yaitu murid Yesus dikala itu dan murid Yesus dikemudian hari (setelah Yesus naik ke Sorga). Paulus, murid Yesus yang tidak pernah makan dan minum bersama Yesus, beroleh pengungkapan misteri Injil yakni misteri Kerajaan Sorga yang diberitakan Injil. Misteri Kerajaan Sorga disingkapkan dalam doa dan permohonan bukan melalui tafsiran Theologi. Sehingga Paulus dalam Efesus 6:18-19 berkata: "...berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tidak putus-putusnya untuk segala orang kudus, juga untuk aku, supaya kepadaku, jika aku membuka mulutku, dikaruniakan perkataan yang benar, agar dengan keberanian aku memberitakan rahasia misteri Injil...".

Paulus beroleh pengungkapan tentang Kerajaan Sorga bukan melalui penyampaian manusia, bukan diberitahu oleh murid Yesus yang biasa makan dan minum bersama Yesus, tetapi melalui pewahyuan oleh Roh Kudus. Dan misteri Injil ini begitu dahsyatnya, sehingga sangat sulit diterima oleh orang-orang yang bukan murid Yesus, bahkan ditolak dimana-mana, sampai masa kini.

5. Keistimewaan Murid Yesus 

Misteri Kerajaan Sorga ini hanya dibukakan kepada para murid. Mengapa "Murid"? Bukankah "murid" merupakan bagian dari wawasan perguruan? Dan bukan wawasan Kerajaan...? Hal ini sesuatu yang sulit dimengerti dalam wawasan agama. Sebab kebanyakan orang memahami 'Murid" dalam wawasan abad-21, bukan wawasan abad-1 sewaktu Yesus memanggil dan mengajar murid-murid-Nya. 

Dalam wawasan abad-1, "murid" memiliki sikap mental yang sama dengan "hamba" di dalam wawasan Kerajaan. "Murid" pada abad-1 menjunjung tinggi Gurunya. Murid melayani Guru habis-habisan, sampai meninggalkan orangtua dan rumah-tangganya, demi melayani Guru. Bahkan 'Murid' rela menyerahkan nyawa untuk kepentingan Gurunya. Bukankah sikap-mental sedemikian serupa dengan sikap seorang 'hamba' terhadapa Rajanya?

Sabda Yesus pada Markus 4:10-12, Yesus sabdakan "...kepada orang-orang luar segala sesuatu disampaikan dalam perumpamaan...". Dalam pemuridan-Nya, Yesus mengenal istilah 'orang luar', yakni mereka yang bukan murid Yesus yang diajarkan dalam 'perumpamaan' yang setara dengan orang-orang yang lebih suka belajar kepada manusia yang diajarkan dengan berbagai 'tafsiran' Theologia yang disuguhkan di tengah-tengah Kristiani. Orang luar hanya diberi perumpamaan oleh Yesus, dan perumpamaan itu masih terekam dalam Kitab Perjanjian Baru (P.B.) hingga saat ini, dan ditanggapi dengan tafsiran yang berbeda-beda. 

Untuk mengerti perumpamaan diperlukan pembahasan, bahkan penafsiran. Maka terbentuklah kebiasaan tafsir menafsir, kebiasaan bahas dan debat, sampai menimbulkan pertikaian atau perbedaan paham. Demikianlah terbentuknya wawasan Theologia, yang berkembang terus sampai sekarang ini, bahkan Theologia diperlakukan sebagai acuan kebenaran dalam Agamawi. 

Inilah Keistimewaan Murid Yesus yakni 'orang dalam'. Mereka benar-benar memasuki wawasan Perguruan di abad-1 yang serupa dengan wawasan Kerajaan Sorga. Perilaku mendasar 'orang dalam' merupakan sebuah tindakan yang abstrak yang tampak dalam setiap tindak tanduknya. Tindakan abstrak dimaksud adalah:

  1. Taati setiap perintah Raja yaitu melaksanakan segera jika sudah dimengerti, betapa tidak enakpun, betapapun kerugian yang mungkin ditimbulkan oleh ketaatan itu. 
  2. Jika ada perintah Raja yang berlum dimengerti (?) Mohon penjelasan dari manusia Raja Sorga, sebab Raja mampu mengajar langsung, karena Raja serba mampu, serba hadir dan serba tahu. (Jika bertanya diluar raja, hanya diperbolehkan kepada sesama hamba Raja yang sudah terbukti kesetiaan dan ketekunan Melayani Raja)
Jadi, jelaslah sekarang prinsip dasar memasuki Kerajaan Sorga: 

  1. Mengerti Masuki dahulu wawasan Kerajaan Sorga, dengan cara mematuhi semua perintah Raja yang mudah dimengerti, termasuk yang tidak enak sekalipun, barulah....
  2. Diajarkan langsung oleh Raja, sehingga mengerti perkara-perkara yang lebih dalam di dalam Kerajaan Sorga, bukan wawasan ke-agama-an, bukan sosial-politik dunia ini. Pemahaman akan diperkaya dalam sikap seorang murid terhadap Guru (konotasi abad-1) atau sikap seorang hamba terhadap Rajanya. 
Jika sabda Yesus dipahami diluar Wawasan Kerajaan Sorga, sudah pasti kesesatan menjadi akhir dari pemahaman itu. Kepada Murid-Nya, Yesus menguraikan segala sesuatu tanpa perumpamaan lagi. Karena pemahaman tentang Kerajaan Sorga dikhususkan untuk para murid atau hamba Raja yang terbukti dalam ketaatan dan ketekunan.


Inilah Injil Kerajaan itu, seperti yang disabdakan dalam 
Markus 24:14 " ....akan diberitakan di seluruh dunia, 
menjadi saksi bagi semua bangsa..." , 
yang diberitakan oleh Murid yang menaklukan diri
menjadi hamba bagi Raja Sorgawi dalam nama YESUS.  

Segala Kemuliaan dan Hormat
Bagi Bapa Disorga dalam nama YESUS 
Raja Sorgawi!!! Amin.