"Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga Sorga sudah dekat!" Matius 4:17. Yesus sudah menunjukkan bahwa yang dibawa-Nya adalah Pesan (ajaran) tentang Kerajaan Sorga (Basilealogia). Sehingga disepanjang rekaman-rekaman Injil, terlihat hal-hal yang menerangkan tentang itu.
Kalaupun Yesus menjalani syariat agama Yahudi semasa bayi (sunat, dll), semua itu terjadi sebelum Yesus membuka pemuridan-Nya sendiri. Setelah menjadi Rabi (Guru), Yesus tidak menetapkan tentang sesuatu syariat Agama, terlihat dari seluruh sabda yang disampaikan-Nya, yang tidak menyinggung mengenai ketentuan agamawi. Kalaupun ada kata 'hidup keagamaan' dalam Matius 5:20, itu hanya akibat kesalahan penterjemahan oleh L.A.I. Dalam KJV, berbahasa Inggris menggunakan kata 'righteousness' yang berarti 'hidup benar'. Jadi, penerjemahan yang tepat adalah 'Hidup Benar' bukan 'Hidup Keagamaan'.
- Yesus tidak pernah menetapkan suatu Hari Ibadah. Memang Yesus sering mengunjungi Synagogue pada hari sabat, tetapi bukan untuk beribadah, melainkan untuk mengabarkan Injil-Nya. Kehadiran-Nya di Bait Tuhan pada hari sabat adalah karena pertimbangan praktis yaitu banyak pendengar hadir di sana.
- Yesus tidak membangun atau menetapkan bentuk Rumah Ibadah; tidak merumuskan Tatacara Ibadah, seperti yang ditetapkan oleh Musa dan para penerusnya di dalam Kitab Perjanjian Lama (P.L.).
- Bahkan Yesus tidak pernah merumuskan tentang ke-imam-an agamawi, dan tidak pernah Yesus menunjuk salah seorang murid-Nya menjadi imam bagi murid lainnya.
Suatu fakta bahwa Bible menuliskan ratusan halaman tentang urusan Kerajaan. Apakah ratusan halaman itu tidak untuk disadap manfaat bentuk pola pemuridan dalam iman kepada Raja Sorgawi yaitu Yesus?
- Dalam satu kerajaan hanya ada satu Raja
- Raja adalah Yang Maha Tinggi di dalam setiap Kerajaan, kekuasaan Raja bersifat mutlak dan tidak dapat diganggu gugat oleh Bapak/Ibunya Raja, memuliakan Ibunda Raja melebihi Raja dianggap bentuk ketidak setiaan kepada Raja. Misalnya: seperti yang direkam dalam 1 Raja-Raja 2:17-25. Ketika Betseba Ibu Raja Salomo meminta agar Abisag diberikan untuk menjadi istri Adonai. Permintaan ibu Raja ditolak yang akhirnya Adonia memperoleh kematian.
- Warga harus menyerahkan sebagain harta, bahkan anak-anak muda untuk melayani Raja dan untuk kepentingan Kerajaan. Seperti halnya ketika Raja Saul diangkat menjadi seorang raja dengan ketentuan ketentuan yang diberikan kepada bangsa Israel. Yang menentang ketentuan ini dianggap Pemberontak! Didalam Kerajaan Sorga, prinsip lebih dahsyat lagi, segala harta dan diri pribadi warga adalah milik Raja, sebab Raja Sorga adalah Pencipta Manusia dan Dunia dan segala isinya.
- Sabda Raja adalah Hukum, yang mutlak yang harus ditaati. Sabda Raja tidak boleh ditambahi dengan ajaran/aturan asing, yang membangkangi Sabda Raja dianggap Pemberontak.
- Dituntut kesetiaan mutlak warga kepada Raja: Taat...Taat...dan Taat. Bahkan ketaatan tidaklah cukup untuk beberapa kali atau beberapa tahun. Ketaatan bersifat selama-lamanya tanpa terputus, warga harus mentaati Raja, itulah kesetiaan warga Kerajaan.
1. WAWASAN KERAJAAN (BASILEALOGIA)
Basilea-logia berasal dari kata Yunani yang artinya Basilea (Kerajaan) dan Logia (ajaran tentang/wawasan tentang), yang artinya ajaran tentang kerajaan atau wawasan tentang kerajaan, bukan tentang wawasan agama. Basilealogia sangat berbeda dari Theos-Logia, yang menjadi dasar pengajaran agama Kristen, bahkan bagi ajaran setiap sekte yang berkembang sendiri-sendiri. Masing-masing sekte memiliki perbedaan pandangan terhadap Kerajaan Sorga, sehingga hal tersebut menimbulkan ketimpangan ataupun penyimpangan terhadap Kerajaan Sorga yang diserukan oleh Yesus dalam Matius 4:17. Meskipun terjadi ketimpangan dalam perbedaan pandangan, namun hal ini tidak menjadi suatu peringatan bagi agama Kristen itu sendiri, yang terjadi malah saling mengklaim bahwa pandangan sektenya paling benar dari sekte lainnya.
Murid Yesus atau pemberita Injil Kerajaan Sorga tidak membutuhkan Theologia, sebab semua sabda Raja yang mereka perlukan untuk ditaati sudah terekam di dalam rekaman-rekaman Injil yaitu Matius, Markus, Lukas dan Yohanes). Mentaati sabda Raja bukan untuk diperbantahkan atau diperdebatkan.
Sebab didalam Yohanes 14:15-17 disabdakan bahwa "Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku. Aku akan meminta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran. Dunia tidak dapat menerima Dia, sebab dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia. Tetapi kamu mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu."
Sehingga di dalam Wawasan Kerajaan (Basilealogia) untuk memahami setiap Sabda Raja Sorgawi yaitu Yesus Raja Sorgawi, murid Yesus tidak membutuhkan pandangan dunia (wawasan keagamaan 'Theologia'), karena dunia tidak menerima Dia, tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia. Tetapi sebuah janji diberikan bagi setiap yang taat kepada Yesus Raja Sorgawi untuk mengerti sabda-Nya yaitu seorang Penolong yaitu Roh Kebenaran.
2. WAWASAN KERAJAAN SORGA
Yang Yesus beritakan pada awalnya adalah mengenai Kerajaan (Sorga) . Maka pesan-pesan Yesus selanjutnya harus dipahami seturut Wawasan Kerajaan (Basilealogia) Sorga (atau 'paradigma' Kerajaan Sorga). Tidak sia-sia bahwa Bible menulis ratusan halaman yang berisi catatan tentang Kerajaan. Maka wawasan Kerajaan dapat dipahami dari bagian Bible itu, namun wawan Kerajaan Sorga harus dimasuki dengan segala kemutlakannya. Sebab Raja Sorga adalah Pencipta Manusia, sehingga semua yang ada pada warga adalah milik Raja Sorga.
Kemutlakan kekuasaan Raja Sorga mengatasi kemutlakan kekuasaan Raja dunia, sebab Raja Sorga Serba Mampu (Omni-Potent), Serba Hadir (Omni-Present) dan Serba Tahu (Omni-Scient), yang tidak dimiliki oleh Raja-raja dunia. Maka norma Kerajaan berlaku secara mutlak di dalam Kerajaan Sorga yang Yesus Perkenalkan Yaitu:
- Di dalam Kerajaan Sorga hanya ada satu Raja, yang lainnya adalah hamba Raja. Suatu peristiwa dalam Markus 10:35-40 dapat menjelaskan hal ini, yaitu sewaktu Yakobus dan Yohanes memohonkan jabatan tinggi dalam Kerajaan-Nya Yesus kelak, dan hal ini menunjukkan bahwa pada saat itu mereka belum sungguh memahami dan memasuki wawasan Kerajaan Sorga yang Yesus beritakan.
- Segala harta-benda, bahkan diri pribadi warga adalah milik Raja. Itu sebabnya Yesus tidak menghendaki persembahan, apapun bentuknya, karena semua adalah milik Raja Sorga. Hal ini dapat dipahami dalam Matius 9:13 dan Matius 12:7.
- Sabda Raja adalah HUKUM, yang mutlak harus ditaati. Hal ini dapat dipahami dalam Lukas 23:39-43 dan Roma 10:9. Perbandingan antara Lukas 23:-43 dan Roma 10:9 menunjukkan Sabda Yesus sebagai Raja tidak boleh diganggu gugat oleh hukum Agamawi yang dicatat oleh Paulus pada Roma 10:9.
- Sabda Raja Sorga tidak boleh ditambahi dengan ajaran/aturan asing, misalnya ajaran Musa atau agama asing (jangan di OPPLOS). Warga Kerajaan Sorga tidak mengaminkan ajaran Muhammad, yang menganggap 'Allah' selaku Yang Maha Tinggi. Maka Warga Kerajaan Sorga tidak menyeru 'Allah', sebab lidah Yesus anak manusia di tanah Israel pasti tidak mengucapkannya. Warga Kerajaan Sorga tidak mengaminkan ajaran Musa, yang menganggap Yahweh atau YHWH selaku Yang Maha Tinggi, juga sesembahan suka bangsa lainnya seperti; Lowalangi (Nias), Debata (Batak), Jubata (Dayak), dll. Semuanya itu dianggap tabu, mengotori kemuliaan Raja Sorga. Hal ini dapat dipahami dalam 1 Tawarikh 16:26.
- Kesetiaan kepada Raja adalah bersifat mutlak yaitu Taat + Taat + Taat sampai selama-lamanya. Hal ini dapat dipahami dalam Sabda Yesus "... yang bertahan sampai kesudahannya akan selamat." Matius 10:22. ☝ Tidak selayaknya warga berdebat atau berdiskusi tentang sabda Raja. Debat atau diskusi tidak beroleh tempat dalam Basilealogia. Itu adalah bagian dari Theologia, di luar dari Wawasan Kerajaan Sorga. ☝ Jika warga tidak mengerti sesuatu perintah, harus ditanyakan langsung kepada Raja, sebab Raja memiliki kemampuan untuk mengajar langsung. Boleh juga ditanyakan kepada sesama hamba Raja yang sudah terbukti kesetiaannya melayani Raja. ☝ Janganlah warga Kerajaan Sorga menanyakan sabda Rajanya kepada seseorang yang bukan warga Kerajaan Sorga, betapapun keahliannya. Karena Dia bukanlah warga Kerajaan Sorga itu.
- Karunia Kerajaan Sorga bagi mereka yang setia saja. Hal ini dapat dipahami dalam 1 Korintus 12:7-11 yaitu pengamatan Rasul Paulus mengenai karunia-karunia Roh Kudus dari wawasan Keagamaan, wawasan yang kuat melatar belakangi pemikiran-pemikiran Paulus. Karunia Roh yang Paulus ajarkan ini bersifat wawasan Keagamaan tidak dapat dianggap sama dengan Karunia dalam Wawasan Kerajaan.
Sehingga Wawasan Kerajaan Sorga memahami bahwa:
RAJA SORGA MENGELUARKAN SABDA
HAMBA SORGA MENAATI SABDA
TIDAK ADA DISKUSI ATAU PERBANTAHAN
Segala Kemulian dan Hormat...
Bagi Bapa di Sorga dalam nama Yesus Raja Sorgawi!!! Amin.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar