menjadi saksi bagi semua bangsa, sesudah itu barulah tiba kesudahannya."
Markus 24:14
1. Wilayah (Teritorial) Kerajaan Sorga
Iblis adalah pakar penyesatan. Banyak sekali orang Kristen diperdayanya. Misalnya, ketika mendengar perkataan "Kerajaan Sorga", segera menganggap bahwa Kerajaan Sorga itu urusan setelah ajal, karena dirancukan oleh pengertian "Sorga" yang indah dalam kekekalan.
Pada hal Yesus bersabda:Atas pertanyaan orang Farisi, apabila bilamana Kerajaan Allah Tuhan akan datang, Yesus menjawab, kata-Nya: "Kerajaan Tuhan datang tanpa tanda-tanda lahiriah, juga orang tidak dapat mengatakan: Lihat, ia ada di sini atau ia ada di sana! Sebab sesungguhnya Kerajaan Tuhan ada di antara dalam kamu."
Jelas sekali adanya Kerajaan Tuhan (sama dengan Kerajaan Sorga, sebab hanya satu sorga dan hanya satu Rajanya yaitu Tuhan). Yesus mengajarkan bahwa Kerajaan Sorga hadir tanpa tanda-tanda lahiriah, berarti tidak kasat mata, sesuatu kerajaan yang bersifat rohani. Artinya, orang tidak dapat mengatakan bahwa Kerajaan Sorga ada di Tanah Israel atau di Tanah Arab, sebab Kerajaan Sorga tidak kasat mata yang membutuhkan wilayah (teritorial). Dan oleh karena Kerajaan Sorga tidak kasat mata dan juga tidak membutuhkan wilayah, maka Kerajaan Sorga itu dikatakan ada di dalam kamu, ya... ada di dalam alam rohaniah kamu.
2. Kerajaan atau Agama
Yesus memulai pelayananNya di bumi dengan seruan perdana: "Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!" (Matius 4:17). Seruan Yesus itu tidak sama dengan "Bertobatlah, supaya engkau masuk kerajaan sorga", sebab sorga masih jauh dan untuk memasukinya harus melalui ajal dan penghakiman.
Dalam seruannya, Yesus tidak menyerukan pesan Agama melainkan pesan Kerajaan. Jika Yesus menyerukan pesan Agama, tentunya kita berasumsi bahwa Yesus beragama Yahudi, namun Alkitab tidak mencatat demikian. Pesan yang diserukan Yesus jelas pesan Kerajaan, sehingga kita seharusnya meresponinya dengan wawasan Kerajaan dan bukan wawasan Agama. Jadi, perlu ditegaskan bahwa pemberitaan Yesus bukanlah pemberitaan Agama, namun pemberitaan Kerajaan Sorga, yaitu sebuah Kerajaan yang tidak kasat mata, tidak nampak kepada mata jasmani. Siapa yang mampu menghargainya? Siapa yang dapat menangkap dan menanggapinya dengan tepat?
Maka dapatlah dikatakan bahwa Kerajaan Sorga adalah suatu kerajaan yang misterius, sehingga walaupun nabi-nabi Perjanjian Lama sudah menyinggungnya, namun seolah-olah tidak memperdulikannya karena tidak menampaknya.
3. Misteri atau Rahasia
Misteriusnya kerjaan ini, dinyatakan oleh Yesus sendiri dalam Markus 4:10-12,
Ketika Ia sendirian, pengikut-pengikut-Nya dan kedua belas murid itu menanyakan Dia tentang perumpamaan itu. Jawab-Nya: "Kepadamu telah diberikanrahasia misteri Kerajaan Tuhan, tetapi kepada orang-orang luar segala sesuatu disampaikan dalam perumpamaan, supaya: sekalipun melihat, mereka tidak menanggap, sekalipun mendengar, mereka tidak mengerti, supaya mereka jangan berbalik dan mendapat ampun."
Begitu misteriusnya kerajaan yang dimaksud oleh Yesus, sehingga kepada orang-orang luar hanya disampaikan dalam bentuk perumpamaan, jadi ada banyak orang yang tidak mengetahui dengan pasti tentang misteri kerajaan sorga selain dari pada murid Yesus itu sendiri.
Rahasia dan Misteri merupakan dua kata yang memiliki arti berbeda Rahasia dapat diungkapkan dengan bermodalkan kecerdasan, pengetahuan serta kegigihan mencari jawabannya. Misteri sendiri tidak sama dengan Rahasia, karena Misteri adalah kebenaran agamawi yang hanya mungkin dipahami melalui pewahyuan dan tidak dapat sepenuhnya dimengerti.
4. Misteri Dibukakan Bagi Murid Yesus
Misteri Kerajaan Sorga hanya dibukakan kepada murid Yesus, yaitu murid Yesus dikala itu dan murid Yesus dikemudian hari (setelah Yesus naik ke Sorga). Paulus, murid Yesus yang tidak pernah makan dan minum bersama Yesus, beroleh pengungkapan misteri Injil yakni misteri Kerajaan Sorga yang diberitakan Injil. Misteri Kerajaan Sorga disingkapkan dalam doa dan permohonan bukan melalui tafsiran Theologi. Sehingga Paulus dalam Efesus 6:18-19 berkata: "...berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tidak putus-putusnya untuk segala orang kudus, juga untuk aku, supaya kepadaku, jika aku membuka mulutku, dikaruniakan perkataan yang benar, agar dengan keberanian aku memberitakanrahasia misteri Injil...".
Paulus beroleh pengungkapan tentang Kerajaan Sorga bukan melalui penyampaian manusia, bukan diberitahu oleh murid Yesus yang biasa makan dan minum bersama Yesus, tetapi melalui pewahyuan oleh Roh Kudus. Dan misteri Injil ini begitu dahsyatnya, sehingga sangat sulit diterima oleh orang-orang yang bukan murid Yesus, bahkan ditolak dimana-mana, sampai masa kini.
5. Keistimewaan Murid Yesus
Misteri Kerajaan Sorga ini hanya dibukakan kepada para murid. Mengapa "Murid"? Bukankah "murid" merupakan bagian dari wawasan perguruan? Dan bukan wawasan Kerajaan...? Hal ini sesuatu yang sulit dimengerti dalam wawasan agama. Sebab kebanyakan orang memahami 'Murid" dalam wawasan abad-21, bukan wawasan abad-1 sewaktu Yesus memanggil dan mengajar murid-murid-Nya.
Dalam wawasan abad-1, "murid" memiliki sikap mental yang sama dengan "hamba" di dalam wawasan Kerajaan. "Murid" pada abad-1 menjunjung tinggi Gurunya. Murid melayani Guru habis-habisan, sampai meninggalkan orangtua dan rumah-tangganya, demi melayani Guru. Bahkan 'Murid' rela menyerahkan nyawa untuk kepentingan Gurunya. Bukankah sikap-mental sedemikian serupa dengan sikap seorang 'hamba' terhadapa Rajanya?
Sabda Yesus pada Markus 4:10-12, Yesus sabdakan "...kepada orang-orang luar segala sesuatu disampaikan dalam perumpamaan...". Dalam pemuridan-Nya, Yesus mengenal istilah 'orang luar', yakni mereka yang bukan murid Yesus yang diajarkan dalam 'perumpamaan' yang setara dengan orang-orang yang lebih suka belajar kepada manusia yang diajarkan dengan berbagai 'tafsiran' Theologia yang disuguhkan di tengah-tengah Kristiani. Orang luar hanya diberi perumpamaan oleh Yesus, dan perumpamaan itu masih terekam dalam Kitab Perjanjian Baru (P.B.) hingga saat ini, dan ditanggapi dengan tafsiran yang berbeda-beda.
Untuk mengerti perumpamaan diperlukan pembahasan, bahkan penafsiran. Maka terbentuklah kebiasaan tafsir menafsir, kebiasaan bahas dan debat, sampai menimbulkan pertikaian atau perbedaan paham. Demikianlah terbentuknya wawasan Theologia, yang berkembang terus sampai sekarang ini, bahkan Theologia diperlakukan sebagai acuan kebenaran dalam Agamawi.
Inilah Keistimewaan Murid Yesus yakni 'orang dalam'. Mereka benar-benar memasuki wawasan Perguruan di abad-1 yang serupa dengan wawasan Kerajaan Sorga. Perilaku mendasar 'orang dalam' merupakan sebuah tindakan yang abstrak yang tampak dalam setiap tindak tanduknya. Tindakan abstrak dimaksud adalah:
3. Misteri atau Rahasia
Misteriusnya kerjaan ini, dinyatakan oleh Yesus sendiri dalam Markus 4:10-12,
Ketika Ia sendirian, pengikut-pengikut-Nya dan kedua belas murid itu menanyakan Dia tentang perumpamaan itu. Jawab-Nya: "Kepadamu telah diberikan
Begitu misteriusnya kerajaan yang dimaksud oleh Yesus, sehingga kepada orang-orang luar hanya disampaikan dalam bentuk perumpamaan, jadi ada banyak orang yang tidak mengetahui dengan pasti tentang misteri kerajaan sorga selain dari pada murid Yesus itu sendiri.
Rahasia dan Misteri merupakan dua kata yang memiliki arti berbeda Rahasia dapat diungkapkan dengan bermodalkan kecerdasan, pengetahuan serta kegigihan mencari jawabannya. Misteri sendiri tidak sama dengan Rahasia, karena Misteri adalah kebenaran agamawi yang hanya mungkin dipahami melalui pewahyuan dan tidak dapat sepenuhnya dimengerti.
4. Misteri Dibukakan Bagi Murid Yesus
Misteri Kerajaan Sorga hanya dibukakan kepada murid Yesus, yaitu murid Yesus dikala itu dan murid Yesus dikemudian hari (setelah Yesus naik ke Sorga). Paulus, murid Yesus yang tidak pernah makan dan minum bersama Yesus, beroleh pengungkapan misteri Injil yakni misteri Kerajaan Sorga yang diberitakan Injil. Misteri Kerajaan Sorga disingkapkan dalam doa dan permohonan bukan melalui tafsiran Theologi. Sehingga Paulus dalam Efesus 6:18-19 berkata: "...berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tidak putus-putusnya untuk segala orang kudus, juga untuk aku, supaya kepadaku, jika aku membuka mulutku, dikaruniakan perkataan yang benar, agar dengan keberanian aku memberitakan
Paulus beroleh pengungkapan tentang Kerajaan Sorga bukan melalui penyampaian manusia, bukan diberitahu oleh murid Yesus yang biasa makan dan minum bersama Yesus, tetapi melalui pewahyuan oleh Roh Kudus. Dan misteri Injil ini begitu dahsyatnya, sehingga sangat sulit diterima oleh orang-orang yang bukan murid Yesus, bahkan ditolak dimana-mana, sampai masa kini.
5. Keistimewaan Murid Yesus
Misteri Kerajaan Sorga ini hanya dibukakan kepada para murid. Mengapa "Murid"? Bukankah "murid" merupakan bagian dari wawasan perguruan? Dan bukan wawasan Kerajaan...? Hal ini sesuatu yang sulit dimengerti dalam wawasan agama. Sebab kebanyakan orang memahami 'Murid" dalam wawasan abad-21, bukan wawasan abad-1 sewaktu Yesus memanggil dan mengajar murid-murid-Nya.
Dalam wawasan abad-1, "murid" memiliki sikap mental yang sama dengan "hamba" di dalam wawasan Kerajaan. "Murid" pada abad-1 menjunjung tinggi Gurunya. Murid melayani Guru habis-habisan, sampai meninggalkan orangtua dan rumah-tangganya, demi melayani Guru. Bahkan 'Murid' rela menyerahkan nyawa untuk kepentingan Gurunya. Bukankah sikap-mental sedemikian serupa dengan sikap seorang 'hamba' terhadapa Rajanya?
Sabda Yesus pada Markus 4:10-12, Yesus sabdakan "...kepada orang-orang luar segala sesuatu disampaikan dalam perumpamaan...". Dalam pemuridan-Nya, Yesus mengenal istilah 'orang luar', yakni mereka yang bukan murid Yesus yang diajarkan dalam 'perumpamaan' yang setara dengan orang-orang yang lebih suka belajar kepada manusia yang diajarkan dengan berbagai 'tafsiran' Theologia yang disuguhkan di tengah-tengah Kristiani. Orang luar hanya diberi perumpamaan oleh Yesus, dan perumpamaan itu masih terekam dalam Kitab Perjanjian Baru (P.B.) hingga saat ini, dan ditanggapi dengan tafsiran yang berbeda-beda.
Untuk mengerti perumpamaan diperlukan pembahasan, bahkan penafsiran. Maka terbentuklah kebiasaan tafsir menafsir, kebiasaan bahas dan debat, sampai menimbulkan pertikaian atau perbedaan paham. Demikianlah terbentuknya wawasan Theologia, yang berkembang terus sampai sekarang ini, bahkan Theologia diperlakukan sebagai acuan kebenaran dalam Agamawi.
Inilah Keistimewaan Murid Yesus yakni 'orang dalam'. Mereka benar-benar memasuki wawasan Perguruan di abad-1 yang serupa dengan wawasan Kerajaan Sorga. Perilaku mendasar 'orang dalam' merupakan sebuah tindakan yang abstrak yang tampak dalam setiap tindak tanduknya. Tindakan abstrak dimaksud adalah:
- Taati setiap perintah Raja yaitu melaksanakan segera jika sudah dimengerti, betapa tidak enakpun, betapapun kerugian yang mungkin ditimbulkan oleh ketaatan itu.
- Jika ada perintah Raja yang berlum dimengerti (?) Mohon penjelasan dari
manusiaRaja Sorga, sebab Raja mampu mengajar langsung, karena Raja serba mampu, serba hadir dan serba tahu. (Jika bertanya diluar raja, hanya diperbolehkan kepada sesama hamba Raja yang sudah terbukti kesetiaan dan ketekunan Melayani Raja)
MengertiMasuki dahulu wawasan Kerajaan Sorga, dengan cara mematuhi semua perintah Raja yang mudah dimengerti, termasuk yang tidak enak sekalipun, barulah....- Diajarkan langsung oleh Raja, sehingga mengerti perkara-perkara yang lebih dalam di dalam Kerajaan Sorga, bukan wawasan ke-agama-an, bukan sosial-politik dunia ini. Pemahaman akan diperkaya dalam sikap seorang murid terhadap Guru (konotasi abad-1) atau sikap seorang hamba terhadap Rajanya.
Inilah Injil Kerajaan itu, seperti yang disabdakan dalam
Markus 24:14 " ....akan diberitakan di seluruh dunia,
menjadi saksi bagi semua bangsa..." ,
yang diberitakan oleh Murid yang menaklukan diri
menjadi hamba bagi Raja Sorgawi dalam nama YESUS.
Segala Kemuliaan dan Hormat
Bagi Bapa Disorga dalam nama YESUS
Raja Sorgawi!!! Amin.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar